Sejarah Vihara Buddhagaya Watugong

Vihara Buddhagaya Watugong mempunyai sejarah panjang hingga perkembangan yang besar pada saat ini. Kurang lebih 500 tahun sesudah keruntuhan Kerajaan Majapahit, muncul lah berbagai kegiatan dan peristiwa yang menyadarkan berbagai kalangan penduduk akan warisan luhur nenek moyang yaitu Buddha Dhamma agar dapat kembali dipraktekkan oleh para pemeluknya.
Usaha yang semula banyak digagas di zaman Hindia-Belanda. Akhirnya harapan akan adanya orang yang mampu untuk mengajarkan Buddha Dhamma pada para umat dapat terwujud dengan kehadiran Bhikkhu Narada Maha Thera dari Srilanka pada tahun 1934.
Gayung pun bersambut, kehadiran Dhammadutta tersebut dimanfaatkan oleh umat dan simpatisan untuk mengembangkan diskusi dan memohon penjabaran Dhamma secara lebih luas lagi.
Puncaknya muncul putra pertama Indonesia yang mengabdikan diri secara penuh pada penyebaran Buddha Dhamma, yakni pemuda Bogor bernama The Boan An yang kemudian menjadi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.
Pada tahun 1955 Bhikkhu Ashin Jinarakkhita memimpin perayaan Waisak 2549 di Candi Borobudur, pada saat itu juga ada seorang hartawan yang menjadi tuan tanah dari Semarang yang bernama Goei Thwan Ling dengan latar belakang agama Buddha yang terkesan pada kepiawan dan kepribadian dari Bhikku Ashin Jinarakkhita, maka Goei Thwan Ling menghibahkan dan mempersembahkan sebagian tanah miliknya untuk digunakan sebagai pusat dan pengembangan Buddha Dhamma.
Tempat itulah yang kemudian diberi nama Vihara Buddhagaya. Pada 19 Oktober 1955 didirikan Yayasan Buddhagaya untuk menaungi aktivitas vihara. Dari vihara inilah kemudian satu episode baru pengembangan Buddha Dhamma berlanjut.
Vihara Buddhagaya Watugong atau juga dikenal dengan nama Vihara Buddhagaya merupakan salah satu tempat ibadah agama Buddha yang terletak di Pudakpayung, Banyumanik, Semarang Jawa Tengah. Lokasi tepatnya berada di depan Markas Kodam IV/Diponegoro.
Komplek Vihara Buddhagaya Watugong tersebut terdiri dari dua bangunan induk utama yaitu Pagoda Avalokitesvara dan Dhammasala serta beberapa bangunan lain. Pagoda Avalokitesvara adalah bangunan yang mempunyai nilai artistik tinggi, dengan tinggi mencapai 45 meter dan ditetapkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.
Di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im dengan tinggi lima meter. Sedangkan Dhammasala terdiri dari dua lantai yang mana lantai dasar digunakan sebagai ruang aula serbaguna untuk kegiatan pertemuan dan lantai atas digunakan untuk upacara keagamaan.

 

 

Wisata Semarang: Taman Maerokoco

Puri Maerokoco atau sering disebut Taman Mini Jawa Tengah Indah adalah sebuah objek wisata yang berada di Jalan Yos Sudarso Semarang kurang lebih 5 Km dari Tugu Muda, adalah salah satu bagian taman dari kawasan PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan) Jawa Tengah.
Sebagai taman mini Jawa Tengah yang merangkum semua rumah adat yang disebut dengan anjungan dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Di dalam rumah-rumah tersebut digelar hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing–masing daerah.
Selain menampilkan rumah– rumah adat, objek wisata ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi air seperti, sepeda air, perahu, juga kereta bagi pengunjung. Dibuka untuk umum dari jam 08.00 sampai 18.00. Dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
Nama Puri Maerokoco diambil dari salah satu bagian epos Mahabarata yang menceritakan tentang keinginan salah seorang dewi memiliki seribu bangunan hanya dalam waktu satu malam. “Taman Mini” Maerokoco diresmikan pada tahun 1980an oleh Gubernur Ismail.
Puri mareokoco merupakan perwujudan dari miniature provinsi jateng yang terletak di sebelah barat PRPP-Tawang Mas, Semarang, 3 km dari Bandara Achmad Yani ke timur atau di jalan lingkar utara kota semarang. Taman ini dibangun pada tahun 1993. miniatur ini menempati areal seluas 23,84 ha. Yang terdiri dari anjungan-anjungan dari 35 daerah kabupaten/ kotamadya dati II se-Jateng, dengan desain bercirikan arsitektur khas jateng.
Taman ini diwujudkan dengan pulau yang merupakan gambaran miniatur Jawa Tengah dibatasi oleh laut Jawa dan Samudra Indonesia dan lahan Jawa Barat serta Jawa Timur. Di luar miniatur ini terdapat jalan keliling lebar 6 m yang bisa dipakai untuk kereta mini dan sebagainya.

 

Tahukah Kamu Siapa Anthonius Gunawan Agung?

Anthonius Gunawan Agung menjadi satu di antara korban gempa yang melanda Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) lalu.
Pria berusia 22 tahun ini merupakan petugas Air Traffic Control (ATC) Airnav Indonesia. Saat gempa terjadi, Anthonius tengah mengarahkan pesawat Batik Air ID 6231 terbang dari Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie, Palu menuju Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar.
Ia tetap berada di tower Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie saat gempa terjadi meski rekan-rekannya telah turun dan berhamburan keluar. Anthonius tetap berada di tower untuk mengarahkan penerbangan Batik Air ID 6231 di tengah-tengah guncangan gempa.
“Anthonius telah memberikan clearance kepada Batik saat gempa terjadi. Anthonius sebagai petugas ATC yang bertanggung jawab penuh dengan menyelamatkan pesawat beserta penumpangnya,” ujar Direktur Airnav Indonesia Novie Riyanto
Ia memilih melompat hingga mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Anthonius sempat di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Karena rumah sakit Palu tidak memungkinkan untuk merawat Anthonius, ia dijemput helikopter dan diterbangkan ke Kalimantan. Namun, Anthonius harus mengembuskan napas terakhirnya karena luka dan patah tulang di beberapa bagian tubuh.
Rupanya, Batik Air ID 6231 yang diarahkan Anthonius saat gempa terjadi dikemudikan oleh Mafella.
Mafella mengungkapkan kalimat terakhir yang diucapkan Anthonius setelah Batik Air berhasil lepas landas. Ia mengucapkan terima kasih pada Anthonius yang tetap bertugas mengarahkannya meski gempa terjadi.
Tak hanya itu, Mafella juga menyebut Anthonius sebagai malaikat pelindungnya selama di Palu.

Gets Hotel Semarang sangat bangga oleh apa yang telah dilakukan oleh Anthonius Gunawan Agung, demi menyelamatkan nyawa banyak orang.

 

Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO. Pada tanggal ini, beragam lapisan masyarakat dari pejabat pemerintah dan pegawai BUMN hingga pelajar disarankan untuk mengenakan batik.
Pemilihan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober berdasarkan keputusan UNESCO yaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.
UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia.
Gets Hotel Semarang pun memperingati nya, seluruh manajemen Gets Hotel Semarang memakai batik untuk memperingati Hari Batik Nasional. “Batik perlu dilestarikan, agar terus berkembang dan menjadi identitas bangsa dan negara Indonesia” kata Adeline Stacia selaku Marketing Communication Gets Hotel Semarang.

 

Wisata ke Goa Kreo

Goa Kreo merupakan sebuah destinasi wisata yang konon adalah tempat di mana Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membuat Masjid Agung Demak. Terlepas dari mitos ini tempat ini sangatlah menarik karena di sini terdapat ratusan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang akan membuat para pengunjung merasa rileks.
Seperti namanya, di sini juga terdapat beberapa goa. Goa Kreo terletak di tengah-tengah Waduk Jatibarang. Jadi para pengunjung akan merasa seperti pergi ke sebuah pulau saat berada di Goa Kreo.
Selain wisata goa, para pengunjung juga bisa melakukan hal lainnya seperti naik boat, trakking, dan kulineran di warung dan restoran di sekitar. Lucunya lagi pengunjung juga dapat menikmati kopi di sebuah restoran berbentuk rumah pohon di sekitar goa kreo.
Bagi pengunjung yang ingin bersantai di area Goa Kreo, Gets Hotel Semarang mempunyai City Tour Package, dimana paket menginap di Gets Hotel Semarang dan juga bisa berwisata ke Goa Kreo Semarang.

Check www.getshotel.id for more information